Premenstrual syndrome (PMS) refers to physical
and emotional symptoms that occur in the one to two weeks before a
woman's period. Symptoms often vary between women and resolve around the
start of bleeding. Common symptoms include acne, tender breasts,
bloating, feeling tired, irritability, and mood changes. -Wikipedia-
Ini pertama kalinya gue ngerasain what others girl feel. u know what? yaps! PMS. Jadi, selama kurang lebih 8 tahun gue ngalamin menstruasi dan rutin setiap bulannya, kali ini gue baru bener-bener ngerasain yang sering dibilang sama cewek-cewek pada umumnya, cewek-cewek yang sering banget emosi kalo mau dapet (read: menstruasi), badmood berubah setiap saat dan segala macamnya. IDK why, mungkin sebelumnya gue juga pernah PMS gini, tapi gue gak sadar atau gak peka atau mungkin emang PMS yang sbelum-sebelumnya gak separah yang gue rasain sekarang ini. Demi apapun, since 2 days ago, I see people arround me look like monsters, annoy me everytime, break ma mood, then badmood mode is on 24 hours and so on. Sekecil apapun mereka becandain gue, gue bawaannya emosi, kesel, intinya beberapa hari ini sampe detik gue nulis ini gue lagi badmood banget.Contoh kecil deh, gue beberapa kali nulis kata 'LOL' disetiap kali ada lelucon group chat temen2 kelas gue, then one of them comment 'fir, kenapa pake LOL sama LMAO terus sih? lo baru tau kata-kata itu yah?' suddenly good mood changed into the worst mood. yakeles banget lah kalo gue baru tau kata-kata begituan. Dan sekarang lagi ada lomba futsal di fakultas gue, kelas gue masuk final dong. tadi di parkiran fakultas gue udah bilang ke temen-temen gue if i'm gonna wacht them di final. But, something happened and broke my mood, again. hmm. That's why I prefer stay in my room to waching them playing futsal.
Today's Diary
Beberapa postingan sebelum ini gue sempet nyoba buat nulis dengan menggunakan kata 'aku-kamu'. Karna gue pernah merasa sudah menjadi orang yang cukup dewasa dan sudah waktunya untuk menulis dengan kata-kata yang setidaknya lebih dewasa juga. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, kata 'aku-kamu' dalam sebuah tulisan tidak mampu untuk mendeskripsikan kedewasaan seseorang. Jadi, gue memutuskan untuk kembali menulis seperti biasa dan tidak mencoba untuk menulis dengan beberapa kata yang gue rasa 'agak' dewasa, seperti di postingan sebelumnya.
Gue sempet beberapa kali mulai nulis lagi di blog ini, tapi semua tulisan gue hanya berakhir sebagai sebuah draft yang tersimpan dengan rapi dan tidak pernah terjamah kembali. Banyak yang pengen gue tulis dan ceritain. Saking banyaknya, gue bingung untuk mulai nulis cerita yang mana dulu. Semua kisah yang singgah di hidup gue akhir-akhir ini punya ketertarikan yang saking menariknya gue sampe bingung buat ceritainnya ke siapa. Sedangkan gue sendiri tipe orang yang paling gak bisa pendem sesuatu sendiri, apapun yang gue tau dan rasain biasanya gue ceritain ke orang-orang yang gue anggap mampu untuk menerima segala yang gue ceritain, ke orang sekeliling gue yang mau memberikan sedikit space dalam pikirannya untuk memikirkan sedikit tentang apa yang gue ceritain. Okay, all I wrote above gue rasa cukup untuk basa-basi. Tapi jujur, gue masih bingung mau nulis apa. Sebenernya, gue pengen nulis sesuatu yang lebih bermanfaat dari pada hanya sekedar nulis ma daily life which is not important for u and of course it just waste ur time when u guys reading ma story LOL.
well, gue bingung mau nulis apaan. i think dats enough. see ya.
Aku-Kamu Vs Lo-Gue
Awal minggu di penghujung bulan. Senin, 31 Oktober 2016.
Tak bisakah aku menghentikan waktuku barang sedetik saja? Aku lelah untuk terus merasakan terlalu banyak beban pikiran. Segala jenis masalah berkecamuk memenuhi otakku. Tak menyisakan sedikitpun celah untukku bernafas lega. Akhir bulan yang mengenaskan kurasa. Ya, akhir bulan memang selalu menjadi hari-hari naas bagiku, hari-hari yang tak diharapkan kedatangannya bagi seorang mahasiswa di tanah rantau sepertiku. Mahasiswa yang mulai lelah untuk segala kegiatan kemahasiswaan. Berbagai macam kepanitiaan yang kujalani tak berjalan maksimal. Kau tau mengapa? Karna aku mulai lelah, mulai bosan dengan semuanya. Sejenak terlintas untukku mengakhiri segala rutiinitas kemahasiswaan ini, karna aku bukan seorang yang terdahulu, yang ingin mengikuti segala jenis kegiatan, memiliki banyak teman dan mengumpulkan pengalaman untukku ceritakan kelak kepada siapapun. Dan itu hanyalah aku yang terdahulu, yang melakukan segala sesuatu dengan ambisi, aku di masa kini hanyalah seorang yang melakukan segalanya bak seorang kuli pemikul beras. Memikul beban yang teramat berat.
Terkadang aku ingin sekali meluapkan segala amarahku, segala beban yang tersimpan sejak dahulu, tapi aku tak pernah menemukan sandaran yang tepat untukku berkeluh kesah dan menangis pilu. Hanya sandaran yang kubutuhkan, cukup sandaran saja, cukup seorang yang menemaniku, mendengar isak tangisku yang pilu. Aku tak perlu solusi atas segala yang kurasakan ini. Hanya teman untuk bersandar. Hanya itu.
Terkadang aku ingin sekali meluapkan segala amarahku, segala beban yang tersimpan sejak dahulu, tapi aku tak pernah menemukan sandaran yang tepat untukku berkeluh kesah dan menangis pilu. Hanya sandaran yang kubutuhkan, cukup sandaran saja, cukup seorang yang menemaniku, mendengar isak tangisku yang pilu. Aku tak perlu solusi atas segala yang kurasakan ini. Hanya teman untuk bersandar. Hanya itu.
Feeling Burden
Aku sering menyebut tempat ini dengan sebutan Afrika Van
Bali, panas yang menyengat ketika kemarau tiba, dedaunan kering, dan pepohonan
hanya menyisakan ranting-ranting untuk burung bertengger diatasnya. Ya, itulah alasanku
menyebutnya demikian, karna panas yang menyengat bak padang pasir. Terlalu banyak
kisah yang kulewati di tanah rantau ini, 4 tahun bukanlah waktu yang singkat
untuk berjuang demi sebuah gelar sarjana perikanan di belakang namaku dan
berjuang melawan segala rasa sakit yang timbul karna seseorang yang aku
perjuangkan, seseorang yang bahkan tak pernah menjanjikan masa depannya
untukku. Namun inilah aku dengan segenap kisah yang telah kulalui bersama
mereka, sahabat-sahabat terbaikku, teman seperjuanganku dan engkau, paduka
cinta yang selalu ingin kugenggam hatinya.
Hari ini, aku bergegas kembali menuju tempat itu, tempat
dimana aku merangkai berjuta kisah indah nan pilu, ingin mengenang kembali
segala yang terjadi dahulu ketika aku dan mereka bersama-sama mengukir cerita
serta melukis rindu. Kisah yang kini
hanya menyisakan kenangan serentak bermunculan diotakku, berlomba-lomba
menghiasi pikiran yang sedang kembali ke ranah masa lalu, masa lalu yang selalu
kurindukan. Mengenang kembali awal aku menyandang status sebagai seorang
mahasiswa, menjalani serangkaian kegiatan kampus yang harus dijalani, bertemu
teman-teman baru dan beradaptasi dengan mereka, dan itu bukan hal yang sulit
bagiku saat itu, karna dalam kisahku, aku memiliki begitu banyak cerita dengan
tingkat kesulitan yang berbeda, dan kau tau? Kisahku dengan lelaki itu menjadi
bagian terumit dalam hidupku. Bahkan hingga detik aku menulis kisah ini aku
belum mampu menghapus jejaknya dalam ingatan. Rekam jejaknya terlalu kuat untuk
dilupakan. Walaupun aku sadar, bahwa mengingatnya hanya menorehkan luka teramat
dalam.
Tak banyak yang berubah dari tempat ini, gedung-gedung
masih sama seperti dahulu, hanya saja ada sedikit perbaikan yang membuatnya
semakin terlihat menarik, beberapa gedung baru mulai dibangun di lahan yang
ketika itu ditumbuhi pepohonan dan penuh dengan semak-semak liar. Aku berjalan
seorang diri, menapak tilas segala yang terjadi pada masa yang tak akan
kembali. Ah, aku mulai terbawa oleh suasana melankolis ini. Hati dan ragaku
belum cukup menyatu untuk kembali menapakkan langkah kaki di tanah ini.
Saat
ini ragaku memang sedang berada di tanah masa kini, namun hatiku tak berubah,
ia tidak berpindah, ia tetap berada di deretan masa lalu yang selama ini
berusaha aku lupakan tapi tak pernah mampu. Mereka tak salah jika berkata
melupakan adalah hal tersulit, sekeras apapun kau berusaha, kau tak kan mampu,
semua akan sia-sia, itu justru membuatmu semakin ingat dengan apa yang ingin
kau lupakan. Jadi biarkan saja semua berjalan dengan sendirinya, suatu saat kau
akan tau bagaimana semua ini berakhir. Dan kau harus siap dengan segala hal
yang akan terjadi di akhir kisah. Entah ia akan berakhir bahagia atau tidak itu
bukanlah sebuah masalah, karna adalah salah satu bagian dari skenario Tuhan yang
telah tertandatangani sebelum kau tiba di dunia, kau harus menerima segala yang
terjadi.
Bukit Jimbaran,
Penghujung Tahun 2020
Africa Van Bali
Beberapa waktu lalu aku sempat menuliskan bahwa aku adalah seorang inang yang akan segera ditinggal oleh parasit yang selama ini beranaung di rantingku. Dan itu benar-benar terjadi, parasit itu pergi. Ah tidak, dia tidak pergi, dia hanya berpindah dari rantingku, ranting di seberangku telah ia pilih untuknya bernaung saat ini. Entah dia telah menemukan kenyamanan atau tidak, aku tidak peduli. Dia bukan lagi bagian dari rantingku. Ya, aku dulu selalu menyebutnya bagian dari rantingku meskipun ia hanya sebagai parasit fakultativ yang sama sekali tak menguntungkan bagi pertumbuhan rantingku, ia hanya parasit yang membutuhkan saluran energi agar mampu bertahan hidup. Aku tak segan untuk menyalurkan sebagian energiku untuknya tumbuh, untuk ia tetap bertahan disaat ia benar-benar membuhtuhkan. Namun aku rasa semua itu sia-sia. Energi yang kuberikan tak berarti apa-apa dan hanya menyisakan luka.
Ah sudahlah, sebuah parasit hanya akan selalu menjadi parasit dan tak akan pernah berubah menjadi sebuah inang. Tapi, terlalu munafik rasanya jika aku benar-benar tak peduli dan menganggapnya bukan lagi bagian dari rantingku, karna sejauh ini aku masih terus berusaha untuk menyalurkan secuil energiku, dengan atau tanpa sepengetahuannya. Terkadang, aku berharap untuknya kembali bernaung padaku, menjadi parasit obligatku dan menjadikan aku inang yang selalu ia tumpangi. Aku tak bisa menyangkal jika saat ini aku memang sedang merindunya, meridukan saat terlemah hidupnya dan merangkulnya dalam kehangatan, menyalurkan segenap energi yang tersisa.
Kau tau? Sesekali dalam setiap hariku, aku selalu menempatkan bola mata di tepi hanya untuk sekedar melirikmu, menelusuk seberapa bahagia kau bersama inang yang kau tumpangi detik ini. Kau tak akan pernah sadar seberapa dalam aku menatapmu dan seberapa tajam luka telah menyayat di setiap detiknya. Semoga kau bahagia, semoga kau menemukan kenyamanan yang tak pernah kau temukan selama kau bernaung di rantingku yang saat ini telah rapuh. Semoga inangmu saat ini adalah dia yang benar-benar kau butuhkan, dia yang kau harapkan, dan dia yang dapat memahami apa yang inginkan. Satu harapku, semoga tak ada lagi perih yang tercipta pada ia yang kau jadikan inang dalam hari-hari panjangmu. Salam hangat dariku, inangmu terdahulu.
Bukit Jimbaran, 27 September 2016