Recent Blog Post



  • Apa kabar lelakiku? Bagaimana keadaanmu? Seberapa menyenangkan harimu tanpa hadirku? Aku yakin kau sedang baik-baik saja dan harimu tentu amat menyenangkan bersamanya yang lebih mampu menciptakan zona bahagia dalam hidupmu. Kau tau? Di belahan dunia yang tak kau ketahui, aku menyimpan sejuta rindu untukmu, rindu yang tak pernah terungkap olehku, berbagai macam kerinduan yang kusimpan tak pernah mampu kau terjemahkan. Tak mengapa bila kau tak mampu untuk itu. Sebab dalam hidupmu, aku hanyalah perindu yang tak tampak dalam lintas bahagiamu. Tapi taukah kau? Kau adalah satu-satunya kaum Adam yang mampu melintasi jalan bahagiaku tanpa perlu kau taati rambu-rambu dalam lintas itu. Kau melintas saja sudah cukup bagiku. Sebab, kau adalah sumber bahagia dalam lintasanku. Sungguh, aku sangat merindu. Mungkin jika merindumu harus kubayar dengan rupiah, maka aku adalah wanita dengan hutang terbanyak sebab aku merindumu di setiap saat dalam hidupku.
    Beberapa hari ini, aku bak seorang penguntit dalam hidupmu, apa yang kau lakukan selalu menjadi suatu ketertarikan tersendiri untuk melewati hari. Meski dengan mengetahui apa yang kau lakukan hanya menambah goresan luka. Kau tak akan pernah sadar seberapa dalam luka ini telah menggoresku, kesadaranmu saat ini hanya kau limpahkan pada seseorang yang bahkan tak tau bagaimana kau melalui harimu, bagaimana kau melalui saat tersulitmu. Kurasa dia wanita yang beruntung, karna kau selalu membagi sebagian besar bahagiamu padanya. Sedangkan  aku? Aku hanya wanita bodoh yang berusaha untuk selalu ada ketika kau membutuhkan seorang untuk berbagi kepedihan. And it’s enough to know that you’ve been owned, really enough to tear me apart.
    Jika boleh, aku ingin kau menyampaikan salamku pada wanitamu saat ini, katakan padanya bahwa dahulu aku adalah wanita yang selalu ada untukmu dan sangat mencintaimu namun tak sempat untuk memilikimu karna kau lebih memilihnya untuk menemani harimu. Semoga bahagia selalu menyertaimu dan kekasihmu. Dan semoga Tuhan mengirimkanku seseorang yang mencintaiku dan semoga aku bisa mencintainya lebih dalam dari cintaku padamu dahulu.

    With love,

    Firda Nurdiana.

    Sepucuk Surat Tak Sampai

  • Premenstrual syndrome (PMS) refers to physical and emotional symptoms that occur in the one to two weeks before a woman's period. Symptoms often vary between women and resolve around the start of bleeding. Common symptoms include acne, tender breasts, bloating, feeling tired, irritability, and mood changes. -Wikipedia-
    Ini pertama kalinya gue ngerasain what others girl feel. u know what? yaps! PMS. Jadi, selama kurang lebih 8 tahun gue ngalamin menstruasi dan rutin setiap bulannya, kali ini gue baru bener-bener ngerasain yang sering dibilang sama cewek-cewek pada umumnya, cewek-cewek yang sering banget emosi kalo mau dapet (read: menstruasi), badmood berubah setiap saat dan segala macamnya. IDK why, mungkin sebelumnya gue juga pernah PMS gini, tapi gue gak sadar atau gak peka atau mungkin emang PMS yang sbelum-sebelumnya gak separah yang gue rasain sekarang ini. Demi apapun, since 2 days ago, I see people arround me look like  monsters, annoy me everytime, break ma mood, then badmood mode is on 24 hours and so on. Sekecil apapun mereka becandain gue, gue bawaannya emosi, kesel, intinya beberapa hari ini sampe detik gue nulis ini gue lagi badmood banget.Contoh kecil deh, gue beberapa kali nulis kata 'LOL' disetiap kali ada lelucon group chat temen2 kelas gue, then one of them comment 'fir, kenapa pake LOL sama LMAO terus sih? lo baru tau kata-kata itu yah?' suddenly good mood changed into the worst mood. yakeles banget lah kalo gue baru tau kata-kata begituan. Dan sekarang lagi ada lomba futsal di fakultas gue, kelas gue masuk final dong. tadi di parkiran fakultas gue udah bilang ke temen-temen gue if i'm gonna wacht them di final. But, something happened and broke my mood, again. hmm. That's why I prefer stay in my room to waching them playing futsal. 

    Today's Diary

  • Beberapa postingan sebelum ini gue sempet nyoba buat nulis dengan menggunakan kata 'aku-kamu'. Karna gue pernah merasa sudah menjadi orang yang cukup dewasa dan sudah waktunya untuk menulis dengan kata-kata yang setidaknya lebih dewasa juga. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, kata 'aku-kamu' dalam sebuah tulisan tidak mampu untuk mendeskripsikan kedewasaan seseorang. Jadi, gue memutuskan untuk kembali menulis seperti biasa dan tidak mencoba untuk menulis dengan beberapa kata yang gue rasa 'agak' dewasa, seperti di postingan sebelumnya. 
    Gue sempet beberapa kali mulai nulis lagi di blog ini, tapi semua tulisan gue hanya berakhir sebagai sebuah draft yang tersimpan dengan rapi dan tidak pernah terjamah kembali. Banyak yang pengen gue tulis dan ceritain. Saking banyaknya, gue bingung untuk mulai nulis cerita yang mana dulu. Semua kisah yang singgah di hidup gue akhir-akhir ini punya ketertarikan yang saking menariknya gue sampe bingung buat ceritainnya ke siapa. Sedangkan gue sendiri tipe orang yang paling gak bisa pendem sesuatu sendiri, apapun yang gue tau dan rasain biasanya gue ceritain ke orang-orang yang gue anggap mampu untuk menerima segala yang gue ceritain, ke orang sekeliling gue yang mau  memberikan sedikit space dalam pikirannya untuk memikirkan sedikit tentang apa yang gue ceritain. Okay, all I wrote above gue rasa cukup untuk basa-basi. Tapi jujur, gue masih bingung mau nulis apa. Sebenernya, gue pengen nulis sesuatu yang lebih bermanfaat dari pada hanya sekedar nulis ma daily life which is not important for u and of course it just waste ur time when u guys reading ma story LOL.
    well, gue bingung mau nulis apaan. i think dats enough. see ya.

    Aku-Kamu Vs Lo-Gue

  • Awal minggu di penghujung bulan. Senin, 31 Oktober 2016.
    Tak bisakah aku menghentikan waktuku barang sedetik saja? Aku lelah untuk terus merasakan terlalu banyak beban pikiran. Segala jenis masalah berkecamuk memenuhi otakku. Tak menyisakan sedikitpun celah untukku bernafas lega. Akhir bulan yang mengenaskan kurasa. Ya, akhir bulan memang selalu menjadi hari-hari naas bagiku, hari-hari yang tak diharapkan kedatangannya bagi seorang mahasiswa di tanah rantau sepertiku. Mahasiswa yang mulai lelah untuk segala kegiatan kemahasiswaan. Berbagai macam kepanitiaan yang kujalani tak berjalan maksimal. Kau tau mengapa? Karna aku mulai lelah, mulai bosan dengan semuanya. Sejenak terlintas untukku mengakhiri segala rutiinitas kemahasiswaan ini, karna  aku bukan seorang yang terdahulu, yang ingin mengikuti segala jenis kegiatan, memiliki banyak teman dan mengumpulkan pengalaman untukku ceritakan kelak kepada siapapun. Dan itu hanyalah aku yang terdahulu, yang melakukan segala sesuatu dengan ambisi, aku di masa kini hanyalah seorang yang melakukan segalanya bak seorang kuli pemikul beras. Memikul beban yang teramat berat.
    Terkadang aku ingin sekali meluapkan segala amarahku, segala beban yang tersimpan sejak dahulu, tapi aku tak pernah menemukan sandaran yang tepat untukku berkeluh kesah dan menangis pilu. Hanya sandaran yang kubutuhkan, cukup sandaran saja, cukup seorang yang menemaniku, mendengar isak tangisku yang pilu. Aku tak perlu solusi atas segala yang kurasakan ini. Hanya teman untuk bersandar. Hanya itu.


    Feeling Burden

  •             Aku sering menyebut tempat ini dengan sebutan Afrika Van Bali, panas yang menyengat ketika kemarau tiba, dedaunan kering, dan pepohonan hanya menyisakan ranting-ranting untuk burung bertengger diatasnya. Ya, itulah alasanku menyebutnya demikian, karna panas yang menyengat bak padang pasir. Terlalu banyak kisah yang kulewati di tanah rantau ini, 4 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk berjuang demi sebuah gelar sarjana perikanan di belakang namaku dan berjuang melawan segala rasa sakit yang timbul karna seseorang yang aku perjuangkan, seseorang yang bahkan tak pernah menjanjikan masa depannya untukku. Namun inilah aku dengan segenap kisah yang telah kulalui bersama mereka, sahabat-sahabat terbaikku, teman seperjuanganku dan engkau, paduka cinta yang selalu ingin kugenggam hatinya.
                Hari ini, aku bergegas kembali menuju tempat itu, tempat dimana aku merangkai berjuta kisah indah nan pilu, ingin mengenang kembali segala yang terjadi dahulu ketika aku dan mereka bersama-sama mengukir cerita serta melukis rindu.  Kisah yang kini hanya menyisakan kenangan serentak bermunculan diotakku, berlomba-lomba menghiasi pikiran yang sedang kembali ke ranah masa lalu, masa lalu yang selalu kurindukan. Mengenang kembali awal aku menyandang status sebagai seorang mahasiswa, menjalani serangkaian kegiatan kampus yang harus dijalani, bertemu teman-teman baru dan beradaptasi dengan mereka, dan itu bukan hal yang sulit bagiku saat itu, karna dalam kisahku, aku memiliki begitu banyak cerita dengan tingkat kesulitan yang berbeda, dan kau tau? Kisahku dengan lelaki itu menjadi bagian terumit dalam hidupku. Bahkan hingga detik aku menulis kisah ini aku belum mampu menghapus jejaknya dalam ingatan. Rekam jejaknya terlalu kuat untuk dilupakan. Walaupun aku sadar, bahwa mengingatnya hanya menorehkan luka teramat dalam.
                Tak banyak yang berubah dari tempat ini, gedung-gedung masih sama seperti dahulu, hanya saja ada sedikit perbaikan yang membuatnya semakin terlihat menarik, beberapa gedung baru mulai dibangun di lahan yang ketika itu ditumbuhi pepohonan dan penuh dengan semak-semak liar. Aku berjalan seorang diri, menapak tilas segala yang terjadi pada masa yang tak akan kembali. Ah, aku mulai terbawa oleh suasana melankolis ini. Hati dan ragaku belum cukup menyatu untuk kembali menapakkan langkah kaki di tanah ini.
    Saat ini ragaku memang sedang berada di tanah masa kini, namun hatiku tak berubah, ia tidak berpindah, ia tetap berada di deretan masa lalu yang selama ini berusaha aku lupakan tapi tak pernah mampu. Mereka tak salah jika berkata melupakan adalah hal tersulit, sekeras apapun kau berusaha, kau tak kan mampu, semua akan sia-sia, itu justru membuatmu semakin ingat dengan apa yang ingin kau lupakan. Jadi biarkan saja semua berjalan dengan sendirinya, suatu saat kau akan tau bagaimana semua ini berakhir. Dan kau harus siap dengan segala hal yang akan terjadi di akhir kisah. Entah ia akan berakhir bahagia atau tidak itu bukanlah sebuah masalah, karna adalah salah satu bagian dari skenario Tuhan yang telah tertandatangani sebelum kau tiba di dunia, kau harus menerima segala yang terjadi.

    Bukit Jimbaran, Penghujung Tahun 2020

    Africa Van Bali

  • - Copyright © Firda Nurdiana - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -